Sanctuary Harimau Sumatera Barumun: Sejarah, Peran, dan Perjalanan Konservasi

Penulis : Barumun Sumatran Tiger Sanctuary
Gadis-HS

Di Desa Batu Nanggar, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, terdapat Sanctuary Harimau Sumatera Barumun. Fasilitas ini dibangun untuk menangani Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang membutuhkan perawatan dan rehabilitasi, termasuk individu yang diselamatkan akibat interaksi dengan manusia, mengalami kondisi kesehatan tertentu, atau dipersiapkan untuk dikembalikan ke habitat alami.

Sanctuary ini berada dalam bentang alam yang terhubung dengan Suaka Margasatwa Barumun. Dalam publikasi tahun 2016, Direktorat Jenderal KSDAE menyebutkan bahwa desain sanctuary dikembangkan dengan keterhubungan langsung dengan habitat alami Suaka Margasatwa Barumun.

Sejak dibangun, Barumun telah menjadi tempat bagi harimau dengan latar belakang yang berbeda. Ada individu yang berasal dari alam, ada yang lahir di sanctuary, ada yang kemudian dilepasliarkan, dan ada pula yang tetap berada dalam perawatan.

Ditetapkan dan diresmikan pada 2016

Sanctuary Harimau Sumatera Barumun ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor SK.373/KSDAE/SET.29/2016 tanggal 30 September 2016 tentang Penetapan Suaka Satwa Harimau Sumatera di Desa Batu Nanggar, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Ketentuan tersebut juga dicantumkan dalam laporan ANTARA mengenai pelepasliaran harimau dari Barumun pada 2022.

Pembangunan sanctuary kemudian diresmikan pada 23 November 2016. Direktorat Jenderal KSDAE mencatat bahwa pembangunan dan penyusunan rancang bangunnya melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama sejumlah pihak, termasuk Pusat Keteknikan Hutan dan Lingkungan, Direktorat Jenderal KSDAE, dan Konsorsium Barumun.

Mengapa Harimau Berada di Barumun?

Harimau yang masuk ke Barumun tidak memiliki latar belakang yang sama. Sebagian merupakan harimau liar yang diselamatkan setelah mengalami interaksi dengan manusia atau terkena jerat. Sebagian lainnya membutuhkan perawatan atau rehabilitasi sebelum dapat ditentukan langkah berikutnya.

Gadis merupakan salah satu individu yang tercatat sejak awal keberadaan sanctuary. Ia diselamatkan pada 2016 setelah terkena jerat di kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Cedera tersebut menyebabkan kaki depan kanannya harus diamputasi. Monang, harimau jantan yang masuk pada 2017, juga diselamatkan setelah terkena jerat di Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun Kedua individu tersebut kemudian menjadi induk dari beberapa harimau yang lahir di Barumun.

Kasus Gadis dan Monang juga menunjukkan bahwa kondisi setiap harimau yang diselamatkan dapat berbeda. Ada individu yang mengalami cedera permanen, ada yang menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan, dan ada yang tetap berada dalam perawatan.

18 Individu dalam Catatan Barumun

Berdasarkan catatan pengelolaan internal Barumun tahun 2026, sebanyak 18 individu Harimau Sumatera telah berada dalam riwayat pengelolaan sanctuary sejak 2016. Dari jumlah tersebut, 11 individu merupakan F0 atau harimau yang lahir di alam, sedangkan 7 individu merupakan F1 yang lahir di Barumun.

Riwayat 18 individu tersebut mencakup beberapa hasil pengelolaan:

  • 8 individu telah dilepasliarkan
  • 6 individu masih berada di Barumun
  • 4 individu telah mati

Angka-angka tersebut menggambarkan keseluruhan riwayat individu yang pernah ditangani. Karena itu, kategori tersebut tidak perlu dibaca sebagai kelompok yang seluruhnya terpisah. Individu yang pernah dilepasliarkan tetap termasuk dalam catatan Barumun apabila kemudian mati setelah pelepasliaran.

Di antara 18 individu tersebut terdapat beberapa nama yang menjadi bagian dari sejarah sanctuary. Gadis dan Monang merupakan dua individu F0 yang kemudian menjadi induk dari harimau yang lahir di Barumun. Surya Manggala dan Citra Kartini lahir pada 8 Desember 2018. Keduanya kemudian dilepasliarkan ke Taman Nasional Kerinci Seblat pada 2022.

Pada Januari 2022, Gadis dan Monang kembali memiliki tiga anak, yaitu Adeva, Bisma, dan Albanta. Catatan KSDAE pada tahun tersebut menyebutkan ketiga anak tersebut masih berada dalam pemantauan di Barumun. Pada Januari 2025, lahir Nunuk dan Ninik, yang juga merupakan anak Gadis dan Monang berdasarkan catatan internal Barumun.

Riwayat Barumun juga mencakup Sri Nabilla, Raja Suro, Dewi Siundol, Besti, Ambar Goldsmith, Beru Situtung, Tonga, Senja, dan Aprilia. Masing-masing memiliki asal dan riwayat penanganan yang berbeda.

Ketika Rehabilitasi Berlanjut hingga Pelepasliaran

Tidak semua harimau yang menjalani rehabilitasi dapat langsung dikembalikan ke alam. Pelepasliaran bergantung pada kondisi individu serta hasil penilaian yang dilakukan sebelum keputusan tersebut diambil.

Pada 8 Juni 2022, Surya Manggala dan Citra Kartini dilepasliarkan ke zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat. Keduanya telah berada di Barumun selama sekitar tiga setengah tahun. Sebelum dilepasliarkan, dilakukan pemeriksaan dan persiapan, termasuk pemasangan GPS collar untuk memantau pergerakan setelah release. Pelepasliaran keduanya juga dikaitkan dengan pertimbangan untuk menghindari inbreeding atau perkawinan sekerabat.

Namun, pelepasliaran tidak selalu menghasilkan outcome yang sama. Citra Kartini ditemukan mati di kawasan hutan pada 19 Juli 2022, sekitar enam minggu setelah dilepasliarkan. Sebelumnya, pergerakannya dipantau melalui GPS collar dan tim gabungan melakukan pemantauan lapangan serta kegiatan mitigasi setelah menerima laporan mengenai keberadaan harimau di sekitar masyarakat.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa proses konservasi tidak berhenti ketika seekor harimau dilepasliarkan. Kondisi satwa setelah kembali ke alam menjadi bagian lain yang perlu dipantau dan didokumentasikan.

Dari Berbagai Lokasi di Sumatera

Harimau yang pernah berada di Barumun juga berasal dari berbagai wilayah di Sumatera. Sri Nabilla merupakan harimau F0 yang diselamatkan dari wilayah Tapus Sipagimbal, Tapanuli Selatan, sebelum kemudian dilepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Leuser.

Raja Suro berasal dari Aceh Singkil dan juga menjalani rehabilitasi di Barumun sebelum dilepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Leuser.

Dalam periode berikutnya, Besti, Ambar Goldsmith, dan Beru Situtung juga menjalani proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan.

Pada Maret 2024, Ambar Goldsmith dan Beru Situtung dilepasliarkan di zona inti Blok Hutan Lubuk Tanggok, Taman Nasional Gunung Leuser. Sebelum release, lokasi tersebut telah melalui kajian kesesuaian habitat. Kedua harimau juga dipasangi GPS collar untuk mendukung pemantauan pergerakan setelah pelepasliaran.

Aprilia memiliki riwayat yang berbeda. Ia berasal dari Pelalawan, Riau, dan ditranslokasi dari BBKSDA Riau ke Barumun pada Maret 2025 setelah sebelumnya diselamatkan akibat interaksi dengan masyarakat. Menurut BBKSDA Sumatera Utara, Aprilia kemudian menjalani pemantauan kesehatan dan rehabilitasi di Barumun. Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa Barumun pernah menerima harimau dari beberapa wilayah di Sumatera, bukan hanya dari sekitar Padang Lawas atau Sumatera Utara.

Ketika Seekor Harimau Tidak Bertahan Hidup

Tidak seluruh individu yang pernah berada di Barumun bertahan hidup. Salah satunya adalah Dewi Siundol, yang diselamatkan pada Desember 2021 setelah terlibat dalam konflik dengan masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas. Ketika dievakuasi, ia ditemukan dalam kondisi kesehatan yang buruk dengan luka pada beberapa bagian tubuh.

Dewi menjalani perawatan di Barumun selama hampir enam bulan. Kondisinya sempat membaik, tetapi kemudian kembali menurun. Ia mati pada 19 Maret 2023 dan setelah itu dilakukan nekropsi.

Kasus Dewi menjadi salah satu contoh bahwa hasil penyelamatan tidak selalu berakhir dengan pelepasliaran. Kondisi ketika satwa ditemukan, tingkat cedera, serta perkembangan kesehatan selama perawatan dapat memengaruhi outcome setiap individu.

Kasus lain terjadi setelah release. Citra Kartini mati di alam setelah sebelumnya dilepasliarkan ke Taman Nasional Kerinci Seblat. Kedua kasus tersebut memberikan konteks penting ketika membaca angka kematian dalam catatan Barumun. Angka tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari riwayat masing-masing individu.

Enam Harimau yang Saat Ini Berada di Barumun

Berdasarkan catatan pengelolaan internal Barumun tahun 2026, enam individu saat ini masih berada di sanctuary: Gadis, Bisma, Albanta, Nunuk, Ninik, dan Aprilia. Gadis merupakan satu-satunya individu F0 dari pasangan founder yang masih berada di Barumun. Bisma dan Albanta merupakan anak Gadis dan Monang yang lahir pada 2022, sementara Nunuk dan Ninik lahir pada 2025. Aprilia berasal dari Pelalawan, Riau, dan masuk ke Barumun melalui proses translokasi dari BBKSDA Riau pada 2025.

Enam individu tersebut mewakili beberapa tahap berbeda dalam sejarah Barumun: harimau yang berasal dari alam, individu yang lahir di sanctuary, dan individu yang datang dari wilayah lain setelah proses penyelamatan.

Membaca Barumun melalui Catatan Individu

Hampir sepuluh tahun setelah ditetapkan, catatan Barumun menunjukkan perjalanan yang tidak seragam. Ada harimau yang diselamatkan dari jerat dan kemudian tetap berada dalam perawatan. Ada yang menjalani rehabilitasi dan dikembalikan ke alam. Ada individu yang lahir di sanctuary dan kemudian dilepasliarkan. Ada pula individu yang mati selama masa perawatan atau setelah kembali ke habitat alami.

Karena itu, angka 18 individu lebih tepat dipahami sebagai kumpulan riwayat individu daripada sebagai ukuran tunggal keberhasilan atau kegagalan sebuah sanctuary. Di balik setiap angka terdapat kondisi yang berbeda: dari mana harimau berasal, mengapa ia diselamatkan, bagaimana kondisinya ketika tiba, berapa lama ia berada di sanctuary, dan apa yang terjadi setelahnya.

Mencatat dan memahami riwayat tersebut penting untuk melihat konservasi Harimau Sumatera secara lebih utuh. Rescue tidak selalu berakhir dengan release, dan release tidak selalu berakhir dengan survival. Setiap individu membawa kondisi dan hasil yang berbeda.

Barumun, dengan catatan 18 individu yang telah berada di dalam pengelolaannya, menjadi salah satu lokasi yang dapat digunakan untuk memahami bagian dari proses tersebut dari penyelamatan, perawatan dan rehabilitasi hingga kemungkinan kembali ke habitat alami.

 

Sumber informasi:

  • Direktorat Jenderal KSDAE, Peresmian Suaka Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Sumatera Utara, 23 November 2016.
  • Direktorat Jenderal KSDAE, Barumun Nagari Wildlife Sanctuary: Kolaborasi Multipihak untuk Menyelamatkan Harimau Sumatera, 2018.
  • Direktorat Jenderal KSDAE, Tiga Anak Harimau Lahir di Sanctuary Harimau Barumun, 2022.
  • Direktorat Jenderal KSDAE, Persiapan Pelepasliaran “Surya Manggala” dan “Citra Kartini”, 2022.
  • Direktorat Jenderal KSDAE, Kematian Harimau Sumatera Citra Kartini, 2022.
  • Direktorat Jenderal KSDAE, Luka Masif di Tubuh Harimau Sumatera “Dewi Siundol”, 2021, dan Sempat Dirawat 6 Bulan, “Dewi Siundol” Akhirnya Pergi Selama-lamanya, 2023.
  • Direktorat Jenderal KSDAE/BBKSDA Sumatera Utara, “Ambar Goldsmith” dan “Beru Situtung” Pulang ke Rumahnya, 2024.
  • Direktorat Jenderal KSDAE/BBKSDA Sumatera Utara, BBKSDA Sumatera Utara Terima Translokasi Harimau Sumatera dari BBKSDA Riau, 2025.
  • ANTARA, laporan pelepasliaran Surya Manggala dan Citra Kartini ke Taman Nasional Kerinci Seblat, 2022.