Dulu, suara harimau pernah hidup di Bali. Lalu sunyi mengambil tempatnya. Dulu, jejaknya masih menyentuh tanah hutan Jawa. Lalu manusia terlambat menjaganya. Hari ini, Sumatera menjadi rumah terakhir.
Harimau sumatera bukan sekadar satwa liar. Mereka adalah penjaga keseimbangan hutan. Selama harimau masih hidup di alam, rantai kehidupan di hutan masih terjaga. Sungai tetap mengalir. Pepohonan tetap tumbuh. Dan hutan masih mampu menjadi rumah bagi ribuan kehidupan lainnya.
Ketika harimau hilang, yang hilang bukan hanya satu spesies. Tetapi sebagian jiwa hutan Sumatera itu sendiri.
Di sanctuary ini, setiap hari adalah cerita tentang harapan. Tentang keeper yang datang sebelum matahari terbit untuk menyiapkan pakan. Tentang harimau yang perlahan pulih dari luka dan trauma. Tentang cubs kecil yang tumbuh dengan rasa ingin tahu terhadap dunia di sekitarnya.
Barumun bukan hanya tempat perlindungan. Ia adalah ruang dimana kehidupan kedua dimulai.
Pada akhirnya, harimau mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang mencoba menyelamatkan mereka. Tetapi suatu hari nanti, manusia akan hidup dengan jawaban atas satu pertanyaan besar. Apakah kita memilih untuk peduli, atau membiarkan suara terakhir hutan menghilang dalam diam.
Dan semoga, Sumatera tidak menjadi cerita kehilangan berikutnya.