Jika Harimau Sumatera Hilang, Apa yang Akan Hilang Bersamanya?

Penulis : Arisa Mukharliza
filters-filltransparent-quality80

“Ketika seekor harimau menghilang dari hutan, yang hilang bukan hanya satu individu. Yang ikut hilang adalah keseimbangan yang selama ribuan tahun menjaga kehidupan tetap berjalan.”

Di tengah hutan-hutan Sumatera yang semakin menyempit, masih ada seekor satwa yang berjalan dalam diam. Ia tidak membangun sarang yang terlihat. Ia tidak menanam pohon. Ia tidak mengolah tanah. Namun kehadirannya menentukan kehidupan bagi ribuan spesies lain yang berbagi rumah yang sama.

Satwa itu adalah Harimau Sumatera.

Hari ini, Harimau Sumatera merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih tersisa di Indonesia. Harimau Jawa telah punah. Harimau Bali telah lama menghilang. Yang tersisa hanyalah Harimau Sumatera, penjaga terakhir yang masih bertahan di antara hutan-hutan yang terus menghadapi tekanan.

Banyak orang mencintai harimau karena keindahannya. Karena coraknya yang khas. Karena wibawanya sebagai raja hutan. Namun alasan terbesar mengapa Harimau Sumatera harus dilindungi sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar keindahan.

Harimau Sumatera adalah salah satu penopang keseimbangan kehidupan di bumi.

Harimau Bukan Sekadar Satwa, Melainkan Penjaga Ekosistem

Dalam dunia alam, setiap spesies memiliki peran. Namun tidak semua spesies memiliki pengaruh yang sama besar. Harimau berada di puncak rantai makanan. Ia dikenal sebagai apex predator atau predator puncak. Sebagai predator puncak, harimau membantu mengendalikan populasi berbagai satwa mangsa seperti rusa, kijang, babi hutan, dan beberapa mamalia lainnya.

Sekilas hal ini mungkin terdengar sederhana. Namun bayangkan apa yang terjadi jika tidak ada lagi harimau di hutan?

Populasi satwa mangsa akan meningkat tanpa kendali. Ketika jumlah mereka terlalu banyak, tekanan terhadap tumbuhan dan regenerasi hutan juga akan meningkat. Anak-anak pohon akan habis dimakan sebelum sempat tumbuh. Vegetasi muda akan berkurang. Struktur hutan perlahan berubah. Dalam jangka panjang, seluruh ekosistem dapat mengalami ketidakseimbangan.

Fenomena ini dikenal sebagai trophic cascade, yaitu efek berantai yang terjadi ketika  predator  puncak  menghilang  dari  suatu ekosistem. Dengan kata lain,

keberadaan harimau membantu menjaga agar hutan tetap sehat. Dan ketika hutan tetap sehat, kehidupan manusia juga ikut terlindungi.

Ketika Harimau Menjaga Hutan, Harimau Juga Menjaga Manusia

Banyak orang tidak menyadari bahwa hubungan antara harimau dan manusia jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan. Hutan Sumatera bukan hanya rumah bagi harimau. Hutan juga menjadi sumber air bersih bagi jutaan manusia.

Hutan menyimpan karbon yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Hutan menjaga kesuburan tanah. Hutan membantu mencegah banjir, longsor, dan kekeringan. Ketika hutan rusak, dampaknya dirasakan oleh manusia. Dan salah satu indikator paling kuat bahwa sebuah hutan masih berfungsi dengan baik adalah keberadaan harimau.

Harimau membutuhkan wilayah jelajah yang luas, mangsa yang cukup, dan ekosistem yang sehat untuk bertahan hidup. Jika harimau masih ada, itu berarti sebagian besar komponen penting dalam ekosistem tersebut masih bekerja. Karena itulah banyak ilmuwan menyebut harimau sebagai umbrella species atau spesies payung.

Melindungi harimau berarti melindungi seluruh bentang alam yang menjadi rumah bagi ribuan spesies lain. Saat kita menjaga satu harimau, sebenarnya kita sedang menjaga hutan. Dan ketika kita menjaga hutan, kita sedang menjaga masa depan manusia.

Mengapa Perburuan Harimau Harus Dihentikan?

Sayangnya, ancaman terbesar bagi Harimau Sumatera saat ini masih berasal dari manusia. Perburuan ilegal terus terjadi. Harimau dibunuh untuk diambil kulitnya. Tulangnya diperjualbelikan. Giginya dijadikan koleksi. Kumisnya dipercaya memiliki nilai mistis. Cakarnya dijadikan aksesoris dan perhiasan. Bahkan bagian tubuh yang tampak kecil sekalipun memiliki nilai dalam pasar gelap satwa liar.

Yang sering terlupakan adalah bahwa setiap bagian tubuh tersebut berasal dari seekor harimau yang mati. Tidak ada cara “berkelanjutan” untuk mengambil kulit, tulang, atau gigi dari seekor harimau liar.

Di balik setiap produk yang berasal dari harimau, selalu ada kehidupan yang hilang. Dan ketika jumlah harimau di alam sudah sangat sedikit, setiap individu menjadi sangat berharga.

Kehilangan satu harimau bukan sekadar kehilangan satu satwa. Kita kehilangan penjaga hutan. Kita kehilangan pengendali alami ekosistem. Kita kehilangan bagian penting dari warisan alam Indonesia.

Perdagangan Harimau Bukan Hanya Ancaman bagi Harimau

Perdagangan satwa liar sering dianggap sebagai masalah konservasi semata. Padahal dampaknya jauh lebih luas. Perdagangan ilegal satwa liar merupakan salah satu bentuk kejahatan transnasional terbesar di dunia.

Jaringan yang memperdagangkan harimau sering kali terhubung dengan jaringan perdagangan satwa lain, penyelundupan, pemalsuan dokumen, hingga kejahatan terorganisir. Artinya, ketika kita membiarkan perdagangan harimau terus berlangsung, kita tidak hanya membahayakan spesies tersebut.

Kita juga membiarkan sistem kejahatan yang lebih besar terus berkembang. Karena itu, menghentikan perdagangan harimau bukan hanya soal menyelamatkan satwa. Ini juga tentang menegakkan hukum, menjaga integritas konservasi, dan melindungi masa depan generasi berikutnya.

Harimau yang Tersisa Adalah Tanggung Jawab Kita Bersama

Hari ini, Harimau Sumatera masih bertahan. Mereka masih berjalan di antara pepohonan. Masih meninggalkan jejak di tanah hutan. Masih mengaum di bentang alam yang telah mereka huni jauh sebelum manusia membangun kota-kota modern.

Namun masa depan mereka tidak lagi ditentukan oleh alam semata. Masa depan mereka ditentukan oleh keputusan manusia. Keputusan untuk melindungi hutan atau membiarkannya hilang. Keputusan untuk menghentikan perdagangan atau menutup mata terhadapnya. Keputusan untuk peduli atau mengabaikan.

Suatu hari nanti, generasi mendatang mungkin akan bertanya kepada kita:

“Ketika Harimau Sumatera masih ada, apa yang kalian lakukan untuk menyelamatkannya?”

Semoga saat hari itu tiba, kita dapat menjawab dengan bangga bahwa kita memilih untuk menjaga. Karena jika Harimau Sumatera hilang, kita tidak hanya kehilangan spesies terakhir harimau Indonesia.

Kita kehilangan penjaga hutan. Kita kehilangan bagian penting dari keseimbangan alam. Dan kita kehilangan kesempatan untuk mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi yang akan datang.

Menyelamatkan Harimau Sumatera bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies. Ini tentang menjaga hutan yang memberi kita air. Menjaga alam yang memberi kita kehidupan. Dan menjaga masa depan yang masih layak untuk diwariskan. Karena kepunahan bukanlah pilihan untuk harimau sumatera.

Artikel ini didukung oleh:

The Wildlife Whisperer of Sumatra | #EXTINCTIONISNOTANOPTION