
“Setiap harimau yang tiba di sanctuary membawa masa lalu yang berbeda. Namun semuanya dipersiapkan dengan harapan yang sama: kembali menjadi bagian dari hutan.“
Di dalam dunia konservasi, ada banyak keberhasilan yang dapat dihitung. Berapa individu yang berhasil diselamatkan, berapa yang direhabilitasi, atau berapa yang berhasil dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Namun, ada hal-hal yang tidak pernah dapat diukur dengan angka. Harapan.Kepercayaan. Dan pelajaran yang lahir dari setiap perjalanan.
Bagi Sanctuary Harimau Sumatera Barumun, dua nama akan selalu menjadi bagian dari perjalanan tersebut: Citra Kartini dan Surya Manggala.
Keduanya bukan hanya bagian dari sejarah sanctuary, tetapi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan konservasi harimau sumatera di Indonesia. Kisah mereka memperlihatkan bahwa konservasi bukan sekadar tentang mengembalikan satwa ke alam, melainkan tentang memahami betapa kompleksnya memastikan satwa tersebut dapat kembali menjalankan perannya di ekosistem liar.
Pada Desember 2018, Sanctuary Harimau Sumatera Barumun menyambut kelahiran dua anak harimau sumatera dari pasangan Gadis dan Monang, dua harimau korban konflik yang tidak lagi memungkinkan untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya. Di tengah berbagai tantangan konservasi yang dihadapi harimau sumatera, kelahiran Citra Kartini dan Surya Manggala menjadi secercah harapan bahwa kesempatan kedua masih mungkin diwujudkan.Â
Sejak awal, keberadaan sanctuary tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi rumah permanen. Sanctuary adalah ruang pemulihan. Tempat di mana naluri liar tetap dijaga, kemampuan alami terus diasah, dan setiap proses rehabilitasi diarahkan pada satu tujuan, mengembalikan harimau ke habitat yang memang menjadi rumahnya.
Karena bagi satwa liar, bentuk konservasi terbaik bukanlah hidup dalam perlindungan manusia. Melainkan mampu kembali menjalankan kehidupannya sebagai bagian dari alam.
[Harimau Sumatera: Gadis (Induk), Surya Manggala & Citra Kartini di area enclosure Barumun Sanctuary]Selama kurang lebih tiga setengah tahun, Citra Kartini dan Surya Manggala menjalani proses rehabilitasi di Barumun. Berbeda dengan persepsi sebagian masyarakat, rehabilitasi harimau bukan sekadar memastikan satwa tumbuh sehat. Setiap tahapan dirancang untuk mempertahankan karakter liar yang menjadi modal utama ketika kembali ke habitat alami.
Interaksi langsung dengan manusia dibatasi seminimal mungkin. Keduanya dibesarkan bersama induknya, diberikan pakan hidup untuk mempertahankan naluri berburu, sementara perilaku mereka terus dipantau melalui CCTV dan pengamatan rutin. Sebelum pelepasliaran, keduanya juga menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan pemasangan GPS collar sebagai bagian dari pemantauan pascalepasliar.Â
Seluruh proses tersebut tidak bertujuan menciptakan harimau yang terbiasa dengan manusia. Sebaliknya, seluruh proses itu dirancang agar mereka tetap menjadi harimau.
Perjalanan panjang itu mencapai salah satu titik terpenting pada Selasa, 7 Juni 2022.
Setelah menempuh perjalanan darat sejauh sekitar 636 kilometer dari Barumun menuju Bandara Depati Parbo di Kerinci, Surya Manggala diterbangkan menggunakan helikopter menuju zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat dan dilepasliarkan ke habitat alaminya. Pelepasliaran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.Â
Rencananya, Citra Kartini akan mengikuti pada hari yang sama. Namun kondisi cuaca berubah. Kabut tebal dan hujan yang turun di kawasan pelepasliaran membuat proses tersebut harus ditunda.
Keesokan harinya, Rabu, 8 Juni 2022, ketika cuaca kembali memungkinkan, Citra Kartini akhirnya menyusul menuju lokasi pelepasliaran yang berbeda di zona inti TNKS. Pemisahan lokasi dilakukan untuk menghindari inbreeding atau perkawinan sedarah serta memberikan ruang bagi keduanya membangun wilayah jelajah masing-masing.Â
Hari itu menjadi salah satu momen paling bersejarah bagi Barumun. Bukan karena dua harimau meninggalkan sanctuary. Melainkan karena tujuan rehabilitasi akhirnya benar-benar diwujudkan.
Bagi Barumun, hari itu bukan sekadar momen pelepasliaran. Ia menjadi penanda bahwa seluruh proses rehabilitasi telah mencapai tujuan yang sejak awal diperjuangkan: mengembalikan dua harimau muda kepada habitat alaminya. Selebihnya adalah perjalanan yang hanya dapat dijawab oleh alam dengan segala peluang, tantangan, dan ketidakpastian yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan liar.
Setiap pelepasliaran selalu membawa optimisme. Namun alam memiliki dinamika yang tidak pernah dapat diprediksi sepenuhnya.
Sekitar enam minggu setelah pelepasliaran, pada 19 Juli 2022, tim pemantauan menemukan Citra Kartini dalam kondisi mati di kawasan sekitar TNKS. Hasil nekropsi tidak menunjukkan adanya indikasi jerat maupun perburuan. Cedera yang ditemukan diduga berkaitan dengan interaksi ketika menghadapi atau memburu satwa mangsa. Kabar tersebut segera menjadi perhatian berbagai media nasional dan media yang berfokus pada isu lingkungan.
Di balik rasa duka yang muncul, publik juga mulai mendiskusikan berbagai aspek penting konservasi, bagaimana kesiapan habitat dinilai, bagaimana efektivitas pemantauan pascalepasliar, dan bagaimana risiko di alam liar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap upaya mengembalikan satwa ke habitatnya. Kisah Citra Kartini tidak hanya mengundang empati, tetapi juga memperluas pemahaman bahwa pelepasliaran merupakan proses ilmiah yang terus membutuhkan evaluasi.Â
Duka Kembali Hadir Beberapa Bulan Kemudian
Pada 1 Maret 2023, Surya Manggala ditemukan mati setelah sinyal GPS menunjukkan tidak adanya lagi pergerakan. Saat tim mencapai lokasi, kondisi bangkai telah mengalami dekomposisi lanjut sehingga penyebab pasti kematiannya tidak dapat dipastikan. Peristiwa ini kembali menjadi perhatian media dan komunitas konservasi, sekaligus mempertegas bahwa keberhasilan pelepasliaran tidak pernah dapat dinilai hanya dari satu peristiwa, tetapi dari kemampuan semua pihak untuk terus belajar dan memperbaiki pendekatan konservasi.Â
Mudah bagi publik untuk melihat perjalanan Citra Kartini dan Surya Manggala sebagai kisah kehilangan. Namun bagi Barumun, kisah mereka memiliki makna yang jauh lebih besar.
Konservasi tidak pernah menjanjikan bahwa setiap perjalanan akan berakhir sesuai harapan. Yang dijanjikan konservasi adalah komitmen untuk terus belajar. Setiap proses rehabilitasi. Setiap evaluasi pelepasliaran. Setiap pengembangan metode pemantauan.
Setiap kolaborasi yang dibangun bersama pemerintah, pengelola kawasan konservasi, akademisi, dan organisasi mitra. Semuanya menjadi lebih bermakna karena adanya pengalaman yang ditinggalkan oleh individu-individu seperti Citra Kartini dan Surya Manggala.
Mereka mengingatkan bahwa mempersiapkan seekor harimau saja belum cukup. Habitatnya harus tetap utuh. Populasi mangsanya harus tetap tersedia. Koridor hutannya harus tetap terhubung. Dan ruang hidupnya harus terus dilindungi dari tekanan yang semakin besar.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pelepasliaran tidak hanya ditentukan oleh kesiapan individu, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem yang akan menerimanya.
Hari ini, Sanctuary Harimau Sumatera Barumun masih menjalankan perannya. Masih menjadi tempat pemulihan bagi harimau-harimau yang menjadi korban konflik, jerat, maupun ancaman lain yang membuat mereka kehilangan kesempatan hidup di alam.
Masih mempersiapkan setiap individu dengan prinsip yang sama, yaitu mempertahankan sifat liarnya dan memberikan peluang terbaik untuk kembali menjalankan fungsi ekologisnya.
Perjalanan Citra Kartini dan Surya Manggala akan selalu menjadi bagian dari proses tersebut. Bukan karena keduanya mengajarkan bahwa konservasi adalah jalan yang mudah. Melainkan karena mereka menunjukkan bahwa setiap langkah dalam konservasi harus dibangun di atas ilmu pengetahuan, evaluasi, dan kerendahan hati untuk terus memperbaiki diri.
Tidak semua warisan lahir dari perjalanan yang panjang. Ada warisan yang justru lahir dari keberanian untuk mencoba, dari proses yang penuh tantangan, dan dari komitmen untuk tidak berhenti belajar. Citra Kartini dan Surya Manggala telah meninggalkan warisan itu.
Warisan yang tidak hanya hidup di Sanctuary Harimau Sumatera Barumun, tetapi juga dalam setiap upaya menjaga masa depan harimau sumatera. Suatu hari nanti, harimau-harimau lain akan kembali melangkah keluar dari sanctuary menuju hutan. Mereka akan membawa bekal dari pengetahuan yang terus berkembang, dari pengalaman yang terus diperkaya, dan dari setiap pelajaran yang ditinggalkan oleh mereka yang lebih dahulu menempuh perjalanan itu.
Sebab pada akhirnya, mengenang Citra Kartini dan Surya Manggala bukanlah tentang kembali pada kisah kehilangan. Mengenang mereka adalah tentang menjaga sebuah janji, bahwa setiap pelajaran yang mereka tinggalkan akan menjadi pijakan untuk memberi kesempatan yang lebih baik bagi harimau-harimau yang akan pulang setelah mereka. Dan selama hutan Sumatera masih diperjuangkan sebagai rumah yang aman, nama Citra Kartini dan Surya Manggala akan selalu hidup—bukan hanya dalam ingatan Barumun, tetapi dalam setiap harapan yang kembali dilepas ke alam.

Artikel ini didukung oleh:
The Wildlife Whisperer of Sumatra | #EXTINCTIONISNOTANOPTION