
“Tidak semua harimau yang diselamatkan dapat kembali ke alam. Namun bukan berarti perjuangan mereka berakhir. Sebagian justru memulai peran baru—menjaga masa depan spesiesnya dengan cara yang berbeda. Monang adalah salah satunya.”

[Monang, Harimau Sumatera]
Pada 2017, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) jantan ditemukan di kawasan Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dalam kondisi yang memprihatinkan. Salah satu kakinya mengalami luka serius akibat jerat pemburu.
Jerat mungkin hanya terlihat sebagai seutas kawat baja yang dipasang di jalur lintasan satwa. Namun bagi seekor harimau, jerat dapat mengubah seluruh perjalanan hidupnya.
Setiap upaya untuk melepaskan diri justru membuat lilitan kawat semakin mengencang. Luka semakin parah. Jaringan tubuh rusak. Infeksi mulai berkembang. Tidak sedikit satwa liar yang akhirnya mati perlahan karena kehilangan kemampuan berburu, mengalami infeksi berat, atau kehabisan tenaga.
Monang beruntung ditemukan sebelum semuanya terlambat. Tim penyelamat segera mengevakuasinya untuk menjalani perawatan intensif. Luka di kakinya akhirnya berhasil dipulihkan.
Namun tidak semua luka dapat benar-benar disembuhkan.
Perawatan medis berhasil menyelamatkan hidup Monang, tetapi tidak mengembalikan peluangnya untuk kembali ke alam liar. Dalam konservasi satwa liar, keputusan untuk melepasliarkan seekor harimau tidak hanya didasarkan pada kesembuhan luka. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan individu tersebut untuk bertahan hidup secara mandiri. Seekor harimau harus mampu berburu, mempertahankan wilayah, menghindari konflik dengan harimau lain, serta beradaptasi dengan dinamika ekosistem yang terus berubah.
Setelah melalui serangkaian evaluasi, Monang dinilai tidak lagi memiliki peluang yang memadai untuk bertahan hidup di habitat alaminya. Sejak saat itu, jalan pulang menuju hutan harus ia tinggalkan. Monang tidak kehilangan naluri liarnya.
Ia hanya kehilangan kesempatan untuk membuktikannya kembali di hutan.
Monang kemudian menjadi bagian dari keluarga besar Barumun Nagari Wildlife Sanctuary. Tidak ada sanctuary yang didirikan untuk menggantikan hutan. Sanctuary hadir sebagai ruang pemulihan bagi satwa liar yang masih memiliki kesempatan untuk kembali ke habitat alaminya. Namun bagi sebagian individu seperti Monang, tempat itu akhirnya menjadi rumah terakhir.
Bukan karena manusia menginginkannya. Melainkan karena konservasi juga harus menerima kenyataan bahwa tidak semua individu dapat dipulangkan tanpa membahayakan kehidupannya sendiri.
Meski demikian, kehidupan Monang tidak berhenti di sana. Ia tetap hidup sebagai seekor harimau.
Naluri liarnya terus dipertahankan. Perilakunya tetap dijaga. Interaksi dengan manusia dibatasi seminimal mungkin. Setiap aspek perawatannya dirancang agar ia tetap menjadi harimau, meskipun tidak lagi hidup di alam bebas.
Di Barumun, Monang menemukan peran yang berbeda. Bukan lagi sebagai harimau yang dipersiapkan untuk pulang, melainkan sebagai individu yang akan membantu menjaga masa depan spesiesnya.
Di sanctuary, Monang dipasangkan dengan Gadis, seekor harimau betina yang juga menjadi korban konflik antara manusia dan satwa liar. Pertemuan keduanya bukan sekadar menghadirkan pasangan bagi dua harimau yang kehilangan kesempatan kembali ke alam. Mereka dipersiapkan sebagai bagian dari upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan salah satu subspesies harimau paling terancam di dunia.
Harapan itu lahir pada Desember 2018. Dari pasangan Monang dan Gadis lahirlah dua anak harimau sumatera, Citra Kartini dan Surya Manggala. Kelahiran keduanya menjadi tonggak penting bagi Barumun sekaligus menghadirkan harapan baru bagi konservasi harimau sumatera di Indonesia.
Bagi Monang, kesempatan untuk kembali ke hutan memang tidak pernah datang lagi. Namun melalui anak-anaknya, harapan itu menemukan jalannya.
Selama lebih dari tiga tahun, Citra Kartini dan Surya Manggala menjalani proses rehabilitasi di Barumun. Naluri berburu dipertahankan, interaksi dengan manusia dibatasi, dan setiap tahap dipersiapkan agar keduanya mampu kembali menjalani kehidupan sebagai satwa liar.
Pada Juni 2022, keduanya dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Perjalanan mereka di alam memang berakhir lebih cepat daripada yang diharapkan.
Namun kisah Citra Kartini dan Surya Manggala meninggalkan pelajaran berharga yang terus memperkaya ilmu pengetahuan, memperkuat evaluasi, dan menyempurnakan praktik konservasi harimau sumatera hingga hari ini.
Dan perjalanan itu berawal dari Monang.
Mudah untuk memandang Monang sebagai seekor harimau yang kehilangan kesempatan hidup di alam liar. Namun kisahnya jauh lebih besar daripada itu.
Monang mengajarkan bahwa keberhasilan konservasi tidak selalu diukur dari berapa banyak satwa yang berhasil dilepasliarkan. Ada individu yang justru memberi makna besar bagi konservasi meski tak pernah lagi kembali ke hutan.
Monang adalah salah satunya. Melalui kehidupannya, ia menghadirkan generasi baru.
Melalui perjalanan keturunannya, para praktisi konservasi memperoleh pembelajaran berharga mengenai rehabilitasi, pelepasliaran, dan pemantauan pascalepasliar. Melalui kisahnya, masyarakat belajar bahwa satu jerat tidak hanya melukai seekor harimau.
Satu jerat dapat mengubah masa depan seekor individu, memengaruhi keberlangsungan sebuah populasi, dan menjadi pengingat betapa pentingnya melindungi habitat yang masih tersisa.
Pada 11 Agustus 2025, Monang menutup perjalanan hidupnya. Kepergiannya menjadi duka bagi para penjaga satwa, dokter hewan, teknisi, peneliti, serta semua pihak yang pernah menyaksikan perjalanan panjang seekor harimau yang bertahan hidup setelah lolos dari jerat.
Namun seperti banyak kisah dalam dunia konservasi, akhir dari satu kehidupan tidak selalu berarti berakhirnya sebuah perjuangan. Warisan Monang terus hidup.
Ia hidup dalam setiap harimau yang kini menjalani rehabilitasi dengan harapan suatu hari dapat kembali ke alam liar. Hidup dalam setiap upaya menghapus jerat dari habitat harimau sumatera. Hidup dalam setiap pembelajaran yang terus menyempurnakan praktik konservasi agar semakin sedikit harimau yang kehilangan kesempatan untuk hidup bebas di hutan.
Monang mungkin tidak pernah lagi kembali ke rimba yang menjadi rumahnya. Namun bersama Gadis, ia meninggalkan generasi penerus yang menjadi bagian penting dalam perjalanan konservasi harimau sumatera di Indonesia.
Lebih dari itu, ia meninggalkan sesuatu yang bahkan lebih berharga. Pengetahuan. Pengalaman. Dan pengingat bahwa setiap individu memiliki arti, bahkan ketika ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk pulang.
Pada akhirnya, warisan Monang tidak diukur dari apakah ia berhasil kembali ke hutan. Warisan itu hidup dalam setiap pelajaran yang lahir dari kisahnya, dalam setiap harimau yang memperoleh kesempatan kedua, dan dalam setiap upaya menjaga hutan agar tetap menjadi rumah yang aman bagi spesiesnya.
Monang tidak pernah kembali ke hutan. Namun melalui kehidupannya, ia membantu memastikan bahwa masih akan selalu ada harimau yang memiliki kesempatan untuk pulang.

Artikel ini didukung oleh:
The Wildlife Whisperer of Sumatra | #EXTINCTIONISNOTANOPTION